Kita telah melihat bagaimana berpuasa menurut Perjanjian Lama, Kotbah di Bukit, dan Perjanjian Baru. Mari kita lihat secara praktis bagaimana kita berpuasa sebagai orang percaya hari ini, secara alkitabiah.
Meskipun Perjanjian Baru tidak menekankan tentang berpuasa, tapi adalah salah bila kita menganggap bahwa puasa sudah dihilangkan sama sekali dari kehidupan jemaat. Bagaimanapun, Yesus berkata, “apabila kamu berpuasa”, yang dapat juga diartikan “ketika kamu berpuasa”; dan dalam Matius 9:15, Ia berkata bahwa para murid akan berpuasa setelah Ia diambil dari mereka.
Meskipun Yesus tidak memberikan rincian lebih lanjut, tapi itu cukup sebagai petunjuk. Daripada mengikuti orang yang mengarang aturan-aturan yang bahkan tidak penting menurut Yesus sendiri, sebaiknya kita mencari tuntunan alkitabiah.
Hal penting: Berpuasa merupakan pilihan bebas dan respons alamiah bagi setiap individu orang percaya dalam masa kesesakan.
Tentang masa kesesakan, kita simak komentar John Broadus yang hidup di abad 19:
“Berpuasa akan menjadi tepat dalam keadaan yang alamiah. Dalam masa sukacita, berpuasa tidaklah alamiah dan tidak mampu mengekspresikan ketulusan hati. Tapi bagi seorang yang mengalami kesusahan, secara alamiah ia menjauhkan diri dari makan makanan. Berpuasa mampu memperdalam denyut rohani, dan menjadikan ibadah lebih tulus.”
Dengan kata lain, ketika pikiran dan hati kita dalam keadaan sukacita, jangan berusaha untuk berpura-pura meratap dan berpuasa. Yakobus berkata: “Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!” (Yakobus 5:13).
Bagi yang bergembira, panggilannya adalah bernyanyi, bukan berpuasa. Jadi, dengan pengertian yang benar tentang berpuasa, kita lebih menghargai berkat Allah, yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati (1 Timotius 6:17).
Tapi sebagian dari kita berada dalam situasi sebaliknya. Anda yang sedang meratapi kematian orang yang anda kasihi. Anda yang sedang bergumul melawan penyakit berat. Anda yang sedang berupaya melepaskan diri dari ikatan dosa tertentu. Anda yang sedang mengalami masalah dalam hubungan keluarga. Anda sedang dalam posisi harus memutuskan sesuatu yang sangat mendesak dalam hidupmu, dan sangat membutuhkan tuntunan Allah.
Bagi anda, berpuasa mungkin merupakan salah satu jalan keluar dari beban di hatimu. Itulah yang dikatakan A.W. Pink ketika ia menulis:
“Puasa pribadi haruslah karena desakan dari dalam, bukan karena paksaan dari luar. Puasa haruslah spontan, terjadi dalam keadaan terjepit dan tertekan, sehingga tindakan puasa itu sendiri menjadi bagian yang wajar di dalam situasi tersebut.”
Allah menetapkan berpuasa untuk saat-saat seperti itu. Mungkin tindakan menangguhkan satu dua kali makan minum dapat membantu anda secara roh untuk mengekspresikan situasimu di hadapan Allah.
Bila anda memutuskan untuk berpuasa, siapkan pikiran dan fokus mental anda, jadikan puasamu murni dan memiliki kuasa yang menguatkan.
Percobaan dan masalah cenderung menjadikan kita kehilangan pandangan tentang realitas rohani yang kita miliki di dalam Kristus. Jadi jangan jadikan puasa untuk memusatkan pikiran terhadap masalah anda atau memaksa Tuhan untuk membebaskan anda dari masalah.
Tapi, pusatkan pikiran anda hanya kepada Allah saja.
- Renungkan realitas bahwa Allah memiliki kedaulatan dan kendali mutlak atas situasi kita.
- Pusatkan perhatian pada kebesaran Sang Juru Selamat kita.
- Ingatlah bahwa Kristus telah datang, mati, dan bangkit untuk – pengampunan dosa kita.
- Ingatlah bahwa Ia juga telah naik ke surga, dan senantiasa bersyafaat bagi kita di hadapan Bapa.
- Ingatlah bahwa suatu hari nanti kita akan bertemu Dia, muka dengan muka.
- Ingatlah bahwa tidak ada satupun yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya.
Dan bila anda berpuasa dengan percaya, berserah, tegar hati – maka Bapa di surga akan membalas jerih payahmu itu pada waktu-Nya, sesuai kehendak-Nya.
Ada pandangan populer dari sebagian orang Kristen yang berpikir bahwa dibanding dengan cara lain, berpuasa menjadikan mereka lebih kudus dan lebih dekat kepada Allah. Bagaimanapun mereka menceritakan pengalaman mereka sendiri untuk mendukung pemikirannya, saya tidak percaya itu. Dan seharusnya anda juga tidak.
Firman Tuhanlah yang menguduskan kita. Kita dirubah oleh pembaharuan budi kita (Roma 12:2), dan bukan oleh pembatasan makan makanan.
“Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa” (Mazmur 19:7)
“Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran” (Yohanes 17:17)
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Timotius 3:16-17)
Puasa dan ibadah lahiriah tidak dapat mengerjakan bagimu apa yang Allah telah tetapkan untuk dikerjakan oleh Firman-Nya. Puasa tidak dirancang untuk menaruh kerinduan akan kebenaran ke dalam dirimu, tapi untuk mengekspresikan perasaan tertekan yang memang sedang berlangsung dalam dirimu. Puasa timbul sebagai respons karena adanya kebutuhan rohaniah yang mendesak, tapi bukan merupakan penyebabnya.
Carilah Tuhan melalui Firman-Nya, bukan melalui tubuh yang pedih kelaparan. Inilah yang menghasilkan pertumbuhan rohani yang anda rindukan dalam perjalananmu bersama Kristus.
(Don Green, Grace to You Ministry)